Selasa, 09 Maret 2010

SIAPA DAN APA

Dalam hidup ini kita selalu bertanya tentang kebenaran kata dan makna....

Orang bijak berkata; jangan lihat orangnya, tetapi perhatikan apa
yang dikatakan. (undzur ma qala wala tandzur man qala) Nasehat ini
merujuk pada seringnya kejadian dimana orang sering tertipu oleh
hallo effect. Karena yang berkata orang penting maka kata-katanya
sering dianggap penting. Karena yang berkata orang pinter maka kata-
katanya sering dipastikan benar, padahal belum tentu benar.
Sebaliknya kata-kata orang kecil sering tidak diperhatikan meskipun
benar.

Di sisi lain terkadang terjadi seseorang berkata yang sebenarnya dan
perkataanya memang benar, tetapi perkataan itu tidak difahami oleh
orang lain bahkan terkadang disalah fahami. Di sisi lain lagi ada
seseorang yang berbicara tentang hal-hal yang tidak ada isinya,
tetapi enak didengarnya dan banyak orang betah berlama-lama
dengannya. Ada kata-kata yang setelah kita dengar langsung lewat dari
telinga kiri ke telinga kanan, tak sedikitpun tertinggal di hati
kita, tetapi ada kata-kata yang sangat singkat tetapi begitu kita
dengar langsung menancap di hati mempengaruhi perilaku kita untuk
waktu yang sangat lama.

Syahdan , dikisahkan dalam kisah sufi, bahwa Ibrahim bin Adham,
seorang raja muda (putera mahkota) di negeri Khurazan Asia Tengah,
sedang duduk di kursi kerajaannya. Tiba-tiba terdengar suara berderak
di atas loteng langit-langit istananya. Sebagai seorang raja muda, ia
sangat terganggu oleh suara berisik itu, maka secara spontan ia
berteriak; hai siapa diatas itu ? terdengar jawaban dari atas; saya
baginda.. Dengan heran campur marah Ibrahim bertanya; sedang apa kau
disitu ?. Terdengar jawaban; sedang mencari kudaku yang hilang
baginda. Dengar amat marah Ibrahim berteriak; dasar bodoh kamu,
kenapa kau mencari kuda di loteng, disitu bukan tempat mencari kuda,
wahai dungu !!! Tanpa di duga terdengar jawaban dari atas; Demikian
juga baginda, jika baginda sedang mencari Tuhan, kenapa duduk di
kursi kerajaan ! Baginda berada di tempat yang salah.

Mendengar jawaban singkat yang amat tenang itu, Ibrahim bin Adham
kemudian terdiam. Kata-kata asing dari langit-langit istananya itu
sungguh menyentuh nuraninya; suaranya mantap, kalimatnya jelas dan
logikanya sangat kuat, sehingga keseluruhan kata-kata itu menjadi
sangat berwibawa dan menggelitik jiwanya.

Berhari-hari kemudian Ibrahim bin Adham duduk menyendiri, merenungkan
makna kata-kata orang asing itu, sampai akhirnya ia mengambil
keputusan untuk meninggalkan tahta kerajaannya untuk kemudian
menempuh jalan sufi Dengan berpakaian sangat sederhana Putera Mahkota
itu mengembara mencari Tuhannya. Dua puluh tahun kemudian Ibrahim bin
Adham dikenal sebagai ulama besar yang bermukim di Makkah dan menjadi
rujukan utama ilmu tasauf.

Kisah tersebut menjadi contoh betapa kata-kata tertentu mempunyai
kekuatan yang luar biasa dalam mengubah perilaku manusia, dan betapa
suatu logika mempunyai peran yang sangat besar dalam pengambilan
keputusan, dan betapa paduan suara, kata-kata dan logika mempunyai
daya panggil yang sangat kuat dan berwibawa terhadap seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar